The Bell Jar bagi Sang Jiwa
"Aku vertikal. Tapi aku lebih suka horizontal."
Tokoh dasar dalam puisi konvensional, yang eksplorasi mentahnya tentang penyakit mental and pengalaman perempuan mendefinisikan ulang sastra abad ke-20.
Di musim dingin yang membeku tahun 1963, di sebuah apartemen kecil di London, Sylvia Plath terlibat dalam perlombaan putus asa antara kreativitas dan keputusasaannya. Ia adalah seorang penyair dengan kekuatan luar biasa, seorang wanita yang bisa mengubah rasa sakit dalam hidupnya sendiri menjadi bait-bait yang terasa seperti "semburan darah". Namun, saat ketenarannya mulai meningkat, dunia batinnya runtuh. Ia hidup dalam "bel jar" (toples lonceng) depresi, sebuah ruang hampa di mana udara menjadi semakin mustahil untuk dihirup. Kisahnya adalah tentang cahaya cemerlang yang menyala terlalu terang dan terlalu cepat, meninggalkan warisan yang masih menghantui dan menginspirasi.
Sylvia adalah anak dengan janji yang luar biasa. Sejak usia muda, ia adalah siswa teladan, penulis pemenang penghargaan, and penyair yang karyanya diterbitkan. Ia tampak seperti "gadis Amerika" yang sempurna, namun di balik permukaan, ia berjuang dengan beban ekspektasi yang menghancurkan. Kematian ayahnya ketika ia berusia delapan tahun meninggalkan lubang dalam hidupnya yang akan ia habiskan sisa tahunnya untuk mencoba mengisinya dengan kata-kata. Karya awalnya halus dan terkendali, sebuah masker untuk gejolak yang sudah mulai bergejolak di dalam dirinya.
Pernikahannya with sesama penyair Ted Hughes adalah kemitraan kreatif yang mendalam sekaligus sumber penderitaan yang luar biasa. Di bawah bayang-bayang reputasi Hughes yang terus berkembang, Sylvia berjuang untuk menemukan suaranya sendiri. Hubungan mereka adalah badai gairah, ketidaksetiaan, and kejeniusan bersama. Ketika pernikahan itu akhirnya runtuh, Sylvia ditinggalkan sendirian di London with dua anak kecil, menghadapi musim dingin isolasi and patah hati. Di dalam kawah penderitaan inilah karya terbesarnya, puisi-puisi *Ariel*, lahir.
Selama bulan-bulan terakhir hidupnya, Sylvia mengalami ledakan kreativitas yang mengerikan sekaligus megah. Ia akan bangun sebelum fajar, dalam dingin and sunyi, and menulis puisi yang tidak seperti apa pun yang pernah dilihat dunia. Ini adalah puisi-puisi *Ariel*—ganas, mentah, and tanpa kompromi. Ia menanggalkan topeng sopan kewanitaan tahun 1950-an, mengeksplorasi tema kematian, kelahiran kembali, and perjuangan untuk identitas. Dalam bait-bait ini, ia akhirnya menemukan suaranya yang sejati, tetapi itu adalah suara yang berbicara dari tepi jurang.
Penyesalan terdalam Sylvia mungkin adalah ketidakmampuan untuk mendamaikan tuntutan seninya with tuntutan kehidupan. Ia ingin menjadi segalanya—ibu yang sempurna, penyair besar, wanita yang bersemangat—tetapi "bel jar" akhirnya turun untuk terakhir kalinya. Ia meninggal karena tangannya sendiri pada Februari 1963, pada usia tiga puluh tahun. Tragedinya bukan hanya pada kematian dininya, tetapi pada kesadaran bahwa dunia baru benar-benar mulai mendengarkannya setelah ia tiada. Ia menjadi martir pikiran, seorang wanita yang memberikan segalanya untuk seninya, hanya untuk menemukan bahwa seni tidak bisa menyelamatkannya dari dingin.
Sylvia Plath (1932–1963) adalah seorang penyair and novelis Amerika, paling dikenal karena novel semi-otobiografinya *The Bell Jar* and kumpulan puisi anumertanya *Ariel*.
Lahir di Boston, Massachusetts.
Menikah with penyair Ted Hughes.
Menerbitkan novelnya with nama samaran.
Meninggal di London pada usia 30 tahun.
The Bell Jar: Sebuah novel mani yang mengeksplorasi kesehatan mental and keterbatasan yang ditempatkan pada perempuan pada 1950-an.
Ariel: Kumpulan puisi yang ditulis pada bulan-bulan terakhir hidupnya, dianggap sebagai mahakarya puisi abad ke-20.
Pulitzer Prize for Poetry: Dianugerahkan secara anumerta pada tahun 1982 untuk *The Collected Poems*.
Saxton Grant: Dianugerahkan untuk karyanya di *The Bell Jar*.
Ia tetap menjadi salah satu penyair paling berpengaruh di era modern, pusat pengembangan puisi konvensional.
Meninggal karena bunuh diri pada 11 Februari 1963, di London.
Berbisik melintasi waktu